Galeri Foto

Selasa, 21 April 2015

FESTIVAL DAN BAZAR DURIAN NGROPOH 2015


Selasa 21 April 2015, untuk kedua kalinya Festival dan Bazar Durian Ngropoh diadakan. Bagi warga Temanggung tentu sudah tidak asing lagi dengan durian lokal asli Desa Ngropoh Kecamatan Kranggan Temanggung. Durian Ngropoh mempunyai kelebihan dan ciri khas tersendiri, daging buahnya tebal dan pulen dengan rasa manis sedikit pahit serta aroma yang harum. 
Tujuan diselenggarakan festival ini adalah untuk memperkenalkan dan menaikkan pamor durian lokal asal Ngropoh tersebut kepada khalayak ramai.

TAHUKAH ANDA BAHWA TANGGAL 22 APRIL ADALAH HARI BUMI ?



Hari ini, Rabu 22 April 2015 memang tidak banyak orang yang tahu kalau dunia tengah memperingati Hari Bumi. 
Hari Bumi adalah hari pengamatan tentang bumi yang dicanangkan oleh Senator Amerika Serikat Gaylord Nelson pada tanggal 22 April 1970, bertepatan pada musim semi di belahan bumi utara dan musim  gugur di belahan bumi selatan. Hari Bumi dirayakan setiap tahun secara internasional pada tanggal tersebut, Hari Bumi dirancang untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap planet yang dihuni manusia dan berbagai mahluk hidup lain. Sebelumnya seorang aktivis perdamaian John Mc Connell juga pernah mencanangkan tradisi Hari Bumi di PBB pada tanggal 20 Maret 1969, hari dimana matahari tengah berada tepat di atas khatulistiwa, yang sering disebut March Equinox. Namun sekarang tercatat 175 negara merayakan pada 22 April, yang dikoordinasikan secara global oleh Earth Day Network.

Rabu, 08 April 2015

USULAN GEDUNG KESENIAN TEMANGGUNG



Seorang pelaku seni Temanggung pernah mengatakan bahwa kesenian di republik ini belum mendapat tempat yang layak, terpinggirkan dan masih dipandang sebelah mata. Salah satu indikatornya bisa dilihat dari minimnya fasilitas yang dibangun pemerintah berupa prasarana dan sarana kreativitas para seniman. Agaknya pemerintah terkesan alergi terhadap keberadaan seniman, kalaulah ada yang mau membangun gedung kesenian atau taman budaya, tempatnya juga berada di pinggiran yang tidak strategis, jauh dari keramaian, padahal mestinya berada di lokasi yang mudah dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. 

Selasa, 07 April 2015

CERITA DARI PETILASAN ANGLINGDARMA, DESA BOJONEGORO, KEDU



Legenda Anglingdarma tentu sangat familier dengan kultur sosial masyarakat Jawa, Anglingdarma diyakini sebagai titisan Bathara Wisnu yang lahir dari Dyah Pramesti putri Prabu Jayabaya. Saat dewasa Anglingdarma membangun kerajaan Malawapati dan memboyong ibunya kerajaan barunya. Anglingdarma berpermaisuri Dewi Setyawati putri Resi Maniksutra, dan kakak Dewi Setyawati bernama Batikmadrim diangkat menjadi patihnya.
Suatu saat Anglingdarma harus melakukan lelana bratha karena mengingkari janji sehidup semati dengan istrinya, saat istrinya melakukan pati obong Anglingdarma urung mengikutinya. Dalam perjalanan berkelana meninggalkan istana Anglingdarma dikutuk oleh tiga putri siluman menjadi seekor belibis putih yang membawanya terbang ke Bojonegoro bertemu dengan Dewi Ambarwati putri Prabu Dharmawangsa, Dewi Ambarwati jatuh cinta kepada sang belibis putih karena bila malam hari berubah wujud menjadi pemuda tampan, hubungan asmara kedua insan itu menyebabkan sang putri hamil dan membuat Prabu Dharmawangsa murka, maka diutuslah seorang pertapa bernama Resi Yogiswara untuk mengalahkan belibis putih yang sakti. Belibis sakti akhirnya dikalahkan dan kembali berubah wujud menjadi Anglingdarma sedangkan Resi Yogiswara berubah wujud menjadi Batikmadrim yang memang akan menjemput Anglingdarma, karena masa hukuman lelana bratha sudah selesai.
Maka diboyonglah Dewi Ambarwati ke Malawapati untuk menjadi permaisuri. Begitulah cerita singkat tentang Prabu Anglingdarma, lalu korelasinya dengan tulisan dalam blog ini adalah bahwa di desa Bojonegoro Kecamatan Kedu Temanggung ada sebuah situs yang oleh masyarakat setempat dipercaya sebagai petilasan Prabu Anglingdarma.

SINAU KEDAULATAN BERSAMA CAK NUN DI ALUN-ALUN TEMANGGUNG (PART 2)

Masih sinau kedaulatan bersama Cak Nun dan Kyai Kanjeng dalam rangka menyambut musim tanam tembakau di alun-alun Temanggung lanjutan Jum'at (03/04/2015) malam kemarin. Hadir di hadapan ribuan warga Temanggung dalam acara tersebut para pejabat seperti yang terlihat di panggung Bupati Temanggung Bambang Sukarno, Wakil Bupati Irawan Prasetyadi, Dandim 0706 Temanggung Letkol Inf. Ganardyto Herry K, dan sejumlah tokoh masyarakat lainnya. Bersama bershalawat dengan iringan kelompok Kyai Kanjeng.

Senin, 06 April 2015

SINAU KEDAULATAN BERSAMA CAK NUN DI ALUN-ALUN TEMANGGUNG (PART 1)

Jum'at (03/04/2015) hujan turun sepanjang petang hari tak menyurutkan warga Temanggung, lebih-lebih para petani tembakau hadir ke alun-alun kota Temanggung untuk melakukan mujahadah bersama, menyambut musim tanam tembakau 2015 ini. Emha Ainun Najib atau akrab dipanggil Cak Nun sang kyai mbeling yang juga budayawan itu rupanya menjadi magnet dalam acara bertajuk Mujahadah Bersama Sambil " Sinau Kedaulatan Bersama Cak Nun dan Kyai Kanjeng " yang diselenggarakan Pemkab. Temanggung bekerjasama dengan Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Temanggung, malam itu Cak Nun dihadirkan bersama kelompok Kyai Kanjengnya.

Rabu, 01 April 2015

SUSAH JUGA RELOKASI PEDAGANG KAKI LIMA



Pedagang Kali Lima (PKL) dimanapun tempatnya selalu saja menjadi persoalan yang tidak ada habisnya, anggapan menjadi biang keladi kesemrawutan, mengganggu kebersihan, keindahan dan ketertiban kota, dan lain sebagainya predikat yang disandang PKL ini, sisi lain juga jujugan warga masyarakat yang menginginkan kemudahan akses berbelanja tanpa harus masuk pasar, atau lokasi jual beli yang legal.
Menjamurnya PKL menjadi fakta tumbuhnya usaha masyarakat kecil mencari penghidupan di zaman yang serba sulit ini, PKL memang tidak harus dibrantas, namun akan lebih bijak bila difasilitasi, dengan maksud diatur dalam sebuah lokasi yang semestinya sehingga mereka bisa terus berusaha namun lebih dapat tertata rapi dan tertib, atau dalam istilah lain direlokasi.